LUWU TIMUR, SUARATERKININEWS.COM,- Oleh : Camat Tomoni Timur
Hari ini saya menghadiri Amaliah Ramadhan di SMA Negeri 10 Luwu Timur. Pukul delapan lewat sedikit. Ruangannya sederhana. Dindingnya polos. Kursinya berderet apa adanya. Tapi suasananya hangat. Ada semangat yang tidak sederhana di dalamnya.
Di depan ruangan terbentang spanduk BRUS singkatan dari Bimbingan Remaja Usia Sekolah. Program dari Kantor Urusan Agama Kecamatan Tomoni Timur. Temanya tegas : Remaja Hebat, Siap Masa Depan Cerah.
Saya duduk, lalu berdiri sambil Mengamati.
Anak-anak itu tidak sedang belajar rumus. Tidak sedang mengejar nilai. Mereka sedang belajar sesuatu yang lebih sunyi untuk menguatkan hati.
Ramadhan memang selalu punya cara sendiri untuk mendidik. Ia tidak berteriak. Ia melatih diam. Ia mengajarkan menahan lapar, haus, juga keinginan yang berlebihan. Di tengah dunia yang serba cepat, latihan seperti ini terasa mahal.
Di sekolah ini, Amaliah Ramadhan bukan sekadar agenda tahunan. Ia sudah menjadi tradisi pembinaan. Seluruh siswa dibimbing sesuai keyakinannya. Yang Islam bertadarus dan memperdalam makna puasa. Yang Kristen, Katolik, dan Hindu mendapatkan pendampingan rohani dari guru agama masing-masing.
Berbeda dalam iman. Sama dalam pembentukan karakter.
Kepala UPT, Imam Sopi’i, menyampaikan apresiasi atas kehadiran pemerintah kecamatan. Katanya, ini bentuk kepedulian terhadap kegiatan spiritual di lingkungan pendidikan, khususnya di bulan suci. Saya justru melihatnya lebih jauh, dimana sekolah ini sedang membangun fondasi yang sering kali terlupakan fondasi akhlak.
Kita sering sibuk mempersiapkan siswa menghadapi ujian akademik. Tapi hidup bukan hanya soal lulus ujian. Hidup adalah tentang keputusan. Tentang arah. Tentang integritas ketika tidak ada yang melihat.
Program BRUS menjadi ruang itu. Remaja tidak hanya diberi materi, tetapi diarahkan. Mereka tidak hanya diingatkan tentang masa depan cerah, tetapi ditunjukkan jalannya melalui disiplin, iman, dan tanggung jawab.
Saya pulang dengan pikiran yang sederhana bahwea masa depan tidak dibangun di gedung megah. Ia dibangun di ruang-ruang seperti ini. Di pagi yang tenang. Di bulan Ramadhan. Saat siswa belajar bukan hanya menjadi pintar, tetapi menjadi kuat.
Dan jika spiritualitas mereka terjaga, kita tidak perlu terlalu khawatir tentang arah generasi berikutnya. (#)






