KOLAKA UTARA, SUARA TERKINI NEWS— Di tengah arus digital yang kian deras dan budaya membaca yang kerap terpinggirkan, komunitas Tenggara Reading House (TRH) justru hadir dengan cara sederhana namun berdampak: menggelar “Lapak Baca” di ruang terbuka. Jumat (27/3/2026),
Pelataran Kampus I Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara (UM-KOTA) di Lasusua tampak berbeda. Tumpukan buku tersusun rapi di dalam gerobak, mahasiswa duduk melingkar, sebagian larut dalam bacaan, sebagian lain terlibat diskusi ringan. Suasana ini menjadi penanda bahwa literasi masih memiliki ruang hidup asal ada yang menggerakkan.
Kegiatan Lapak Baca yang digagas TRH ini merupakan bagian dari komitmen untuk menghidupkan kembali budaya membaca di Kabupaten Kolaka Utara. Melalui program unggulannya, “Gerobak Baca”, TRH tidak sekadar menyediakan buku, tetapi juga menghadirkan pengalaman membaca sebagai aktivitas sosial yang menyenangkan.
Antusiasme mahasiswa pun terlihat nyata. Arief, salah satu mahasiswa UM-KOTA, menyebut kehadiran kegiatan ini sebagai “angin segar” di tengah rutinitas akademik yang kerap menjauhkan mahasiswa dari buku-buku non-kurikulum.
“Kegiatan seperti ini sangat dibutuhkan. Membaca bukan hanya kewajiban akademik, tapi bagian dari kehidupan mahasiswa itu sendiri,” ujarnya.
Bagi TRH, Lapak Baca bukan sekadar kegiatan seremonial. Lebih dari itu, ia adalah upaya membangun ekosistem literasi dari bawah dari ruang-ruang kecil yang perlahan menumbuhkan kesadaran besar.
Akbar Pelayati, salah satu pendiri TRH, menegaskan bahwa komunitas ini lahir dari kegelisahan akan minimnya ruang literasi yang inklusif di daerah.
“Kami ingin menghadirkan literasi yang dekat, terbuka, dan bisa diakses siapa saja, terutama mahasiswa,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa literasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendasar bagi mahasiswa sebagai kelompok intelektual.
“Mahasiswa tidak bisa dilepaskan dari tradisi membaca. Di situlah nalar kritis tumbuh dan kesadaran sosial dibangun,” tambahnya.
Dengan konsep sederhana namun konsisten, TRH perlahan membuktikan bahwa gerakan literasi tidak harus dimulai dari hal besar. Cukup dari satu lapak, satu buku, dan satu kesadaran bahwa membaca adalah langkah awal menuju perubahan.






