Insiden Terjadi di Area Tambang PT PUL, Diduga Adanya standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja Yang Tidak Sesuai

LUWU TIMUR, SUARATERKININEWS.COM- Sebuah insiden terjadi di area pertambangan PT Prima Utama Lestari (PUL) pada Selasa malam (28/01/25). Korban sempat mendapatkan perawatan medis di Puskesmas Malili sebelum akhirnya diperbolehkan pulang.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, kejadian tersebut berlangsung sekitar pukul 21.21 WITA di dalam area tambang PT PUL. Korban segera dievakuasi ke Puskesmas Malili untuk mendapatkan penanganan medis.

Sekitar pukul 21.47 WITA, karyawan yang sempat dirawat telah dipulangkan. “Benar, tadi ada karyawan PT PUL yang datang, tetapi sudah pulang,” ujar seorang perawat di Puskesmas Malili yang enggan disebutkan namanya.

Namun, pihak manajemen PT PUL tampaknya enggan memberikan keterangan terkait insiden ini. Upaya konfirmasi yang dilakukan kepada Project Manager PT PUL, Roslianus Dominikus, serta Manager Eksternal, Dea Maulana, tidak mendapatkan tanggapan. Pesan yang dikirim melalui WhatsApp juga tidak direspons.

“Terkesan danya indikasi pihak PT Pul menutup-nutupi insiden yang terjadi diarea tambang tersebut”.

Sekretaris Jenderal Kerukunan Keluarga Malili (KKM), Rudiansyah, mendesak inspektur tambang untuk turun tangan mengusut kejadian tersebut. Ia menilai insiden ini mengindikasikan adanya penerapan standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang tidak sesuai.

“Inspektur tambang tidak boleh diam. Jika memang ada pelanggaran K3, maka aktivitas produksi PT PUL harus dihentikan sementara. Investigasi mendalam perlu dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang dan tidak sampai menimbulkan korban jiwa,” tegas Rudiansyah.

Ia juga menyoroti lemahnya pengawasan serta minimnya monitoring di lokasi tambang, yang berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan kerja.

Selain itu, Rudiansyah menduga kecelakaan ini bisa terjadi akibat kurangnya pengalaman pekerja. Menurutnya, pekerja yang belum berpengalaman mungkin tidak memahami sepenuhnya risiko di lapangan atau belum memiliki keterampilan yang memadai untuk menghadapi situasi berbahaya.

“Hal seperti ini sangat mungkin terjadi. Apalagi kita tahu, banyak tenaga kerja yang direkrut oleh perusahaan mitra PT PUL berasal dari luar daerah dengan proses rekrutmen yang tidak transparan,” pungkasnya. (*)