Presma UIN Alauddin Makassar Kritik Kenaikan Anggaran Polri: “Negara Salah Prioritas”

Makassar – Presiden Mahasiswa Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (UINAM), Muh. Zulhamdi Suhafid, melayangkan kritik terhadap rencana pemerintah menaikkan anggaran Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026. Menurutnya, kebijakan tersebut menunjukkan negara salah dalam menetapkan skala prioritas nasional.

“Pemerintah menaikkan anggaran Polri di saat mahasiswa masih kesulitan mengakses pendidikan karena biaya terus naik. Ini bukan hanya ironi, tapi bentuk nyata bahwa negara salah fokus,” kata Zulhamdi saat ditemui di Kampus II UIN Alauddin, Selasa, 8 Juli 2025.

Dalam RAPBN yang beredar, anggaran Polri disebut naik menjadi Rp173,4 triliun pada 2026. Di sisi lain, alokasi untuk sektor pendidikan, termasuk beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K), justru stagnan bahkan mengalami penurunan.

Zulhamdi menilai keputusan itu mengabaikan kebutuhan generasi muda dan masa depan bangsa. Ia menyebut kampusnya saat ini masih terdampak kebijakan efisiensi anggaran, termasuk pemblokiran dana Badan Layanan Umum (BLU) yang berdampak pada kegiatan mahasiswa.

“Mahasiswa menjerit karena tak bisa menggelar kegiatan. Sementara pemerintah lebih memilih memperkuat institusi keamanan,” ujar dia. “Saya menolak keras DPR RI menyetujui kenaikan anggaran ini.”

Selain itu, ia juga menyoroti maraknya tindakan represif aparat terhadap mahasiswa. Ia mempertanyakan urgensi penambahan anggaran jika digunakan untuk membungkam suara kritis di ruang publik.

“Ironis sekali. Anggaran Polri naik, tapi yang terjadi justru pembubaran aksi dan intimidasi terhadap mahasiswa,” kata Zulhamdi.

Ia mendesak pemerintah dan DPR RI meninjau ulang struktur anggaran dan mengembalikan pendidikan sebagai prioritas utama. Ia juga menyerukan mahasiswa di seluruh Indonesia untuk bersikap kritis dan aktif dalam mengawal kebijakan negara.

“Negara ini bukan hanya dibangun atas dasar keamanan, tapi dengan kecerdasan rakyatnya. Kalau pendidikan terus dikesampingkan, masa depan bangsa yang jadi taruhannya,” ujarnya.


Laporan/Reporter:
Akbar Pelayati,S.Ag