OPINI, SUARA TERKINI NEWS – Apa artinya menjadi kader sebuah organisasi? Apakah sekadar hadir dalam rapat, mengikuti acara, lalu hilang begitu saja setelahnya? Ataukah lebih dari itu: sebuah proses panjang yang menempah diri untuk menjadi manusia yang mampu menjawab tantangan zaman? Pertanyaan ini layak kita ajukan, khususnya bagi kader HIPPERMAKU (Himpunan Pemuda Pelajar Mahasiswa Indonesia Kolaka Utara).
Sejarah setiap kader organisasi selalu bermula dari proses panjang. Ia tidak lahir dalam ruang kosong, melainkan ditempa dari pengalaman kecil di ruang kelas, berkembang di dunia kampus, dan akhirnya hadir di panggung perubahan sosial. Begitu pula dengan kader HIPPERMAKU.
Sejak awal berdirinya, HIPPERMAKU hadir sebagai wadah untuk membina pemuda dan pelajar Kolaka Utara. Ia bukan hanya tempat berkumpul, melainkan arena perjuangan intelektual dan sosial. Di sini, kader ditempa untuk memiliki kesadaran kritis, solidaritas, dan kemampuan memimpin.
Ruang kelas adalah titik mula. Dari sinilah lahir kedisiplinan, keberanian berbicara, hingga kemampuan bekerja sama. Namun, tempaan sesungguhnya terjadi di kampus. Lingkungan perguruan tinggi menjadi laboratorium besar: ruang debat, adu gagasan, hingga pengorganisasian. Kader HIPPERMAKU yang aktif di berbagai organisasi baik intra maupun ekstra mendapat bekal nyata untuk memahami kompleksitas sosial.
Kapabilitas kader tidak lahir dari teori semata, melainkan dari pengalaman nyata. Berada di tengah masyarakat, mengadvokasi persoalan lokal, hingga menghadirkan solusi konkret adalah ciri kader yang matang. HIPPERMAKU menuntut anggotanya untuk tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi berani turun tangan.
Kini, zaman menghadirkan tantangan baru. Media sosial dan dunia digital membuka ruang besar untuk mempengaruhi publik. Namun, panggung utama perjuangan tetap berada di tengah masyarakat. HIPPERMAKU harus menyeimbangkan keduanya: cakap di ruang digital sekaligus hadir secara nyata dalam kehidupan sosial.
Organisasi ini ditantang untuk membuktikan diri sebagai wadah yang produktif, progresif, dan relevan. Ia tidak boleh terjebak pada rutinitas seremonial, melainkan harus aktif menginisiasi perubahan. Dari isu pendidikan hingga lingkungan, dari advokasi pembangunan hingga pemberdayaan generasi muda HIPPERMAKU memiliki lahan luas untuk berkontribusi.
Kualitas kader akan selalu menjadi wajah organisasi. Semakin terampil, kritis, dan berintegritas kadernya, semakin tinggi pula citra HIPPERMAKU di mata publik. Karena itu, setiap anggota dituntut menjadikan pengalaman organisasi sebagai bekal kepemimpinan, bukan sekadar catatan riwayat hidup.
Dari ruang kelas hingga kampus, HIPPERMAKU telah menempa kadernya. Kini, panggung perubahan sosial menanti. Pertanyaannya sederhana: apakah kita siap menjawab panggilan sejarah dan menjadikan HIPPERMAKU bukan sekadar nama, melainkan gerakan nyata yang bermanfaat bagi Kolaka Utara dan Indonesia?






