MAKASSAR, SUARA TERKINI NEWS – Terpilihnya Muh Asri sebagai Formatur/Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Penyelamat Organisasi (HMI-MPO) Cabang Makassar dalam Konferensi Cabang (Konfercab) ke-57 memunculkan sejumlah harapan dari berbagai komisariat, termasuk Komisariat UIM Al-Ghazali Cabang Makassar. Salah satu harapan itu disampaikan Ketua Umum Komisariat UIM Al-Ghazali, Wawan Tri Sanjaya, yang menilai kepemimpinan cabang saat ini memerlukan figur yang mampu menjawab tantangan konsolidasi organisasi dan penguatan kultur intelektual.
Wawan menegaskan bahwa kebutuhan utama cabang adalah pemimpin yang tidak hanya memiliki legitimasi formal, tetapi juga lahir dari proses aspiratif kader. Menurutnya, dinamika internal HMI-MPO selama beberapa tahun terakhir menunjukkan pentingnya kepemimpinan yang inklusif, terbuka terhadap dialog lintas komisariat, serta mampu memulihkan tradisi kritis organisasi.
“HMI-MPO Cabang Makassar membutuhkan satu pemimpin yang benar-benar lahir dari aspirasi kader. Pemimpin yang mampu membawa perubahan yang inklusif, adil, dan mengutamakan kebersamaan dalam mengeluarkan kebijakan selama menjadi nahkoda baru,” ujar Wawan.
Ia menyatakan bahwa terpilihnya Muh Asri menjadi momentum untuk memperkuat jaringan kader antar-komisariat, mengingat tantangan organisasi tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga struktural. Kader di tingkat komisariat, lanjutnya, membutuhkan kehadiran cabang yang mampu memberikan arah, ruang kolaborasi, serta pendampingan strategis dalam berbagai program.
“Semoga dengan terpilihnya Muh Asri sebagai formatur ketua umum di Konfercab ke-57, ia mampu menjadi nahkoda baru yang menjembatani setiap kalangan yang berada di HMI-MPO Cabang Makassar,” kata Wawan.
Konfercab ke-57 HMI-MPO Cabang Makassar sendiri berlangsung di tengah berkembangnya wacana reformulasi gerakan mahasiswa Islam dalam merespons isu-isu sosial di Makassar, mulai dari problem akses pendidikan, ketimpangan ekonomi, hingga tantangan digitalisasi yang berdampak pada ruang aktivisme mahasiswa. Sebagian kader menilai kepemimpinan cabang perlu diarahkan pada penguatan basis intelektual dan advokasi sosial, dua sektor yang dianggap melemah dalam beberapa periode terakhir.
Muh Asri, dalam sejumlah kesempatan setelah pemilihannya, menyinggung pentingnya menghidupkan kembali tradisi perdebatan ilmiah, kaderisasi berbasis identitas keislaman dan kemahasiswaan, serta koordinasi lintas lembaga kemahasiswaan. Namun, tantangan yang dihadapi tidak kecil: fragmentasi internal, tuntutan transparansi, dan kebutuhan membangun kembali kepercayaan kader di beberapa komisariat.
Dengan latar kondisi tersebut, harapan dari Komisariat UIM Al-Ghazali menjadi bagian dari dorongan lebih luas agar cabang bergerak ke arah yang lebih terstruktur, responsif, dan inklusif. Para kader menunggu langkah awal sang formatur dalam menyusun struktur, merumuskan arah kebijakan, dan menunjukkan komitmen terhadap prinsip kolektivitas yang selama ini menjadi ruh organisasi.






