CERITA, SUARA TERKINI NEWS.COM – Lima tahun sudah, kaki ini menapaki jalan-jalan asing yang tak pernah benar-benar jadi rumah. Lalu entah bagaimana, hati memanggil: pulanglah.
Maka dengan menumpang mobil keluarga, aku melaju ke Siwa, Wajo tepatnya di pelabuhan kecil yang setiap hari mengantar manusia menyeberang, membawa rindu dan harapan di antara ombak Sulawesi Tenggara.
Kapal feri berderit pelan, seolah ikut berdoa agar perjalanan ini bukan sekadar perpindahan tempat, tapi juga pertemuan dengan diri yang dulu pernah tinggal di sini. Kolaka Utara menyambutku dengan udara yang masih sesegar kenangan.
Beberapa jam menunggu, adikku Abrar datang dengan motor beat merahnya. Di helm-nya terpatri logo Himpunan Mahasiswa Teknik Komputer UM-KOTA. Aku tersenyum. Dalam sekejap, waktu terasa melompat jauh. Adikku yang dulu kutinggal bermain layangan kini telah menjadi ketua himpunan. Waktu memang punya cara lembut tapi pasti untuk mengubah anak-anak menjadi lelaki.
Kami melaju menuju Lasusua lewat jalan Baypas. Angin menerpa wajah, menggoyang bibir, mengacak rambut, seakan ikut merayakan kepulangan ini. Gunung-gunung di kejauhan berdiri seperti dulu hijau, tenang, dan setia menjaga rahasia masa kecil kami.
Namun, ketika tiba di kawasan Masjid Agung, ada kejutan kecil: masyarakat Lasusua kini gemar berjoging, dengan pakaian olahraga yang serba mewah. Di depan masjid, video tron memancarkan cahaya iklan sebuah tanda bahwa peradaban telah melangkah masuk, membawa wajah baru bagi kota ini.
Aku tertegun. Lasusua telah berubah, tapi tak sepenuhnya. Sebab di balik semua itu, masih ada lubang-lubang di jalan yang sama. Masih ada lampu-lampu jalan yang mati, berdiri seperti saksi bisu dari janji-janji yang entah kapan ditepati.
Malam hari, Lasusua tenggelam dalam gelap. Seakan kota ini memilih beristirahat lebih dulu dari penduduknya. Jika boleh jujur, mungkin inilah ibu kota kabupaten paling gelap di Sulawesi Tenggara bukan karena ketiadaan listrik, tapi karena abainya perhatian.
Meski begitu, ada yang tak pernah padam: keramahan manusia di dalamnya. Senyum-senyum yang sama, sapa yang hangat, dan tawa yang jujur di kedai minuman pinggir jalan.
Hanya saja, malam kadang dirusak oleh suara knalpot bising seolah beberapa orang lupa bahwa ketenangan juga hak semua jiwa.
Masih banyak yang ingin kuceritakan, tentang rindu yang berdebu dan harapan yang menunggu. Namun biarlah kali ini cukup sampai di sini.
Biarlah jemari ini beristirahat, sementara hati masih menulis dalam diam: Pulang, ternyata bukan sekadar kembali. Ia adalah cara lain untuk mengenali apa yang tak pernah benar-benar pergi.






