Memasuki Hari Keempat Pasca Pipa Bocor, PT Vale Belum Beri Penjelasan Resmi Penyebab Kebocoran

LUWU TIMUR, SUARATERKININEWS.COM- Memasuki hari keempat pasca insiden kebocoran pipa dan pencemaran minyak di Kecamatan Towuti, Luwu Timur, PT Vale Indonesia Tbk masih belum memberikan penjelasan resmi terkait penyebab utama bocornya pipa tersebut pada, sabtu 23 Agustus 2025.

Sejumlah kalangan publik mulai menyoroti aspek pemeliharaan pipa minyak yang diketahui sudah berusia puluhan tahun melintasi sejumlah wilayah mulai dari Mangkasa Point di desa Harapan hingga ke site PT Vale di Sorowako.

Terlebih, riwayat kebocoran serupa pernah terjadi sebelumnya sebanyak dua kali di wilayah yang sama (Towuti), dan kali ini disebut yang paling parah.

Dalam siaran pers yang diterima redaksi, PT Vale Indonesia Tbk menyampaikan komitmen pertanggungjawaban atas insiden tersebut tanpa menyebutkan detail penyebab pipa tersebut bocor.

PT Vale menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh dan memperkuat sistem keamanan pipa agar kejadian serupa tidak terulang, namun tidak menyinggung secara spesifik akar masalah penyebab kebocoran.

Redaksi Suaraterkininews.com, mencoba meminta konfirmasi terkait hal ini kepada bagian komunikasi PT Vale, namun hingga berita ini diterbitkan, pihak PT Vale hanya menjawab singkat, “Kami akan share setelah investigasi resmi mas, saat ini belum bisa kita share hanya dugaan saja. tanpa memberikan keterangan lebih detail mengenai penyebab kebocoran.

Direktur Belantara Indonesia, Swaeb Laibe menilai bahwa keterbukaan informasi sangat penting agar publik memahami apakah insiden ini murni kecelakaan teknis ataukah akibat kelalaian perusahaan.

“Kalau penyebabnya tidak diungkap, publik wajar curiga, apalagi ini sudah kali ketiga kebocoran terjadi khusus di Wilayah Towuti, PT Vale harusnya segera memberikan penjelasan,” tegas Swaeb, selasa 26 Agustus 2025.

Selain itu, Swaeb mengatakan bahwa sorotan kini juga tertuju pada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), khususnya Direktorat Jenderal Penegakan Hukum (Ditjen Gakkum), yang telah menurunkan tim untuk memantau langsung di lokasi.

“Publik menanti apakah langkah KLHK sebatas memantau, atau benar-benar melakukan investigasi menyeluruh guna memastikan ada atau tidaknya pelanggaran hukum lingkungan dalam kasus ini” Tambahnya.

Sementara itu, sawah-sawah petani yang terdampak masih terendam minyak pekat, petani mengaku khawatir lahan mereka kembali membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pulih, seperti yang pernah terjadi pada tahun 2000 silam.

Sebelumnya, PT Vale mengatakan upaya pemulihan akan dilakukan secara bertahap, mencakup rehabilitasi ekosistem di area terdampak, dukungan sosial-ekonomi bagi masyarakat.

Semua proses pemulihan akan dilakukan dalam koordinasi yang erat dengan Pemerintah Kabupaten Luwu Timur dan pihak-pihak terkait, dengan prinsip transparansi serta akuntabilitas publik.

“Kami menyadari bahwa masih ada banyak pertanyaan yang belum dapat dijawab sepenuhnya saat ini. Namun, kami berkomitmen untuk menyampaikan perkembangan secara terbuka dan tepat waktu. Semua langkah kami akan berfokus pada keselamatan warga, pemulihan lingkungan, dan keberlanjutan kehidupan masyarakat Towuti,” kata Endra Kusuma, Head of External Relations PT Vale, dalam siaran pers yang diterima redaksi, senin 25 Agustus 2025.