Pasca Kasus Uang Palsu, Rektorat UINAM Larang DEMA Terlibat PBAK: Ketakutan atau Strategi?

MAKASSAR, SUARA TERKINI NEWS – Suhu politik kampus UIN Alauddin Makassar kembali meninggi. Pasca kasus dugaan peredaran uang palsu yang menyeret nama civitas akademika, Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UINAM mengaku dilarang Rektorat untuk ikut serta dalam penyambutan mahasiswa baru (PBAK).
Larangan itu segera memantik pertanyaan: apa yang sesungguhnya ditakuti Rektorat?

Presiden Mahasiswa UINAM menyebut keputusan Rektorat tidak terlepas dari ketakutan akan isu-isu sensitif yang bisa menyeruak di hadapan mahasiswa baru. Setidaknya, ada beberapa hal yang disebut menjadi momok bagi pimpinan kampus:

  1. Spanduk Kritikan. Rektorat disebut alergi pada kritik. Kemunculan spanduk berisi narasi perlawanan mahasiswa kerap dianggap ancaman, bukan ekspresi intelektual.
  2. Kasus Uang Palsu. Rektorat diduga tak ingin luka lama kembali disinggung. Bagi DEMA, justru transparansi atas kasus ini penting demi menjaga wibawa kampus.
  3. Surat Edaran 3652. Aturan yang membatasi ruang aspirasi mahasiswa itu dinilai sebagai pembungkaman demokrasi. Rektorat dituding takut jika edaran ini dipersoalkan terbuka.
  4. Ajakan Berorganisasi. Kekhawatiran lain, mahasiswa baru akan dikenalkan dengan organisasi intra kampus. Padahal, menurut DEMA, organisasi adalah ruang pembelajaran penting di luar kelas.

Dalam pernyataannya, DEMA UINAM menyodorkan lima sikap tegas:

  1. Mendesak Rektor menjadwalkan ulang PBAK khusus DEMA agar mahasiswa baru bisa mengenal organisasi intra kampus.
  2. Mendesak aparat hukum mengaudit anggaran PBAK yang selama ini gelap dari publik.
  3. Menuntut transparansi seluruh anggaran kampus demi mencegah penyalahgunaan dana mahasiswa.
  4. Meminta Rektorat mencabut atau meninjau ulang Surat Edaran 3652.
  5. Menegaskan posisi DEMA sebagai benteng terakhir demokrasi kampus dan kebebasan akademik.

“Rektorat tidak bisa terus menerus menutup ruang demokrasi. Jika suara mahasiswa dibungkam, maka UIN Alauddin kehilangan ruh intelektualnya,” kata pengurus DEMA dalam keterangan resminya.

Pernyataan ini menjadi peringatan keras. Mahasiswa menegaskan tak akan diam melihat pembungkaman yang dinilai sistematis. Pertanyaannya kini: apakah Rektorat benar-benar menjaga ketertiban, atau sekadar menyembunyikan borok yang enggan dibuka?


Report: Akbar Pelayati