CERITA, SUARA TERKINI NEWS – Tahun 2021. Dunia masih tercekik oleh wabah yang merampas jarak, waktu, dan tatap manusia. Di tengah riuh kematian yang diberitakan saban hari, saya justru memulai hidup baru sebagai mahasiswa. Ironis, barangkali. Dunia sedang sakit, tetapi saya merasa seperti baru dilahirkan.
Saya masuk UIN Alauddin Makassar kampus yang diceritakan orang sebagai Kampus Peradaban. Namun pada masa itu, peradaban yang saya temui hanyalah peradaban daring: layar ponsel, sinyal yang tersengal, dan pertemuan-pertemuan sunyi tanpa wajah. Sebuah universitas tanpa gedung, tanpa koridor, tanpa udara. Hanya nama di grup WhatsApp.
Di ruang virtual itulah saya terpilih sebagai ketua tingkat. Dan hanya semenit setelah pengumuman, telepon dari seorang senior yang tak saya kenal berdering suaranya hangat, terlalu hangat untuk seseorang yang bahkan belum pernah melihat bayangan saya. Ia mengucapkan selamat, menanyakan sekretaris, lalu menutup telepon dengan nada seolah saya adalah aset yang baru dibeli. Malam itu, saya tidak mengerti apa-apa. Saya hanya heran: mengapa sebuah jabatan kecil yang bahkan saya sendiri tidak tahu fungsinya, begitu cepat membuat saya dirayakan?
Jawabannya baru datang pelan-pelan, seperti embun yang merayap turun di subuh hari.
Ketika saya pindah ke Makassar dan menetap di sebuah kos kecil yang sunyi, dunia kampus tiba-tiba menjadi riuh. Para senior datang silih berganti, dari yang ramah sampai yang sok akrab. Ada yang membawa kopi, ada yang membawa cerita, ada yang membawa janji. Bahkan notifikasi WhatsApp terdengar seperti ketukan pintu yang tak pernah lelah. Semuanya sama: menawarkan kebaikan yang rasanya terlalu manis untuk tidak mencurigakan.
Dan akhirnya saya tahu: ketua tingkat dan sekretaris adalah suara. Suara yang diperebutkan dalam pemilihan ketua HMPS. Rupanya, pada awal perkuliahan, kami para mahasiswa baru yang masih canggung menyebut nama dosen telah menjadi komoditas yang dipasarkan dengan kopi, janji, dan senyum palsu.
Saya mengikuti satu senior yang saya kira tulus. Hingga sehari menjelang pemilihan, saya dan beberapa ketua tingkat lain “disembunyikan” di suatu tempat. Katanya, malam seperti ini rawan penculikan suara. Saya, yang saat itu masih lugu, percaya begitu saja. Mungkin karena saya belum paham bahwa drama politik di kampus bisa lebih absurd daripada sinetron yang ditertawakan ibu-ibu.
Malam itu panjang, penuh bisik-bisik strategi, pesan masuk tanpa henti, dan ketegangan yang aneh seolah kami sedang menjadi bagian dari operasi rahasia, padahal kami hanya mahasiswa baru yang besok akan mencoblos.
Keesokan harinya, setelah pemilihan selesai, semuanya runtuh seperti panggung yang dibongkar setelah sebuah pertunjukan. Para senior yang dulu tersenyum manis mendadak hambar; mata mereka tak lagi melihat saya sebagai seseorang, tetapi sebagai barang yang masa pakainya telah habis.
Salah satu dari mereka, dengan tawa yang mencoba terdengar ringan tetapi terasa menampar, berkata,
“Sekarang kamu tidak berguna lagi.”
Kalimat itu menembus saya diam-diam, seperti jarum yang disisipkan ke dalam hati. Saat itulah saya belajar pelajaran pertama di kampus: tidak semua yang menyambutmu dengan tangan terbuka berniat merangkul; sebagian hanya ingin memastikan kamu tidak jatuh ke tangan orang lain.
Awal perkuliahan saya bukan dimulai oleh mata kuliah atau dosen, tetapi oleh drama, perebutan suara, dan kebaikan yang lahir dari kepentingan. Namun justru dari sanalah saya mengenali wajah pertama dunia kampus wajah yang tidak hanya mengajar dengan buku, tetapi juga dengan luka.
Masih banyak kisah yang berkelindan dari masa-masa itu. Tetapi jari ini mulai letih, dan biarlah sebagian cerita berdiam dulu di dalam kepala menunggu saatnya untuk keluar lagi, dengan caranya sendiri.






