Jakarta, Suaraterkininews.com – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, melontarkan kritik tajam terhadap sistem skripsi di perguruan tinggi Indonesia yang dinilai lebih menekankan aspek formalitas ketimbang substansi dan dampak penelitian.
Dalam siniar Good Talk yang dirilis kanal YouTube Good News From Indonesia pada Selasa (11/3/2025), Stella menyampaikan bahwa mahasiswa sering kali dibebani untuk menghasilkan karya tulis ilmiah yang tebal dan panjang, padahal hal tersebut belum tentu berbanding lurus dengan kualitas dan kontribusi ilmiahnya.
“Skripsi itu bukan tentang seberapa tebal halaman yang ditulis, tapi seberapa besar dampaknya. Kita harus mulai menggeser paradigma itu,” ujar Stella dalam perbincangan tersebut.
Menurutnya, banyak jurnal ilmiah internasional yang hanya terdiri dari belasan halaman, namun mampu memberikan dampak besar dan signifikan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Hal ini seharusnya menjadi acuan bagi sistem pendidikan tinggi di Indonesia dalam mengevaluasi standar kelulusan.
Stella juga mendorong perguruan tinggi untuk lebih fleksibel dan adaptif dalam menilai hasil akhir studi mahasiswa. Penelitian yang relevan, kreatif, dan berdampak sosial seharusnya mendapat tempat lebih besar dalam sistem akademik Indonesia.
Pernyataan ini langsung menuai tanggapan positif dari sejumlah kalangan akademisi dan mahasiswa, yang selama ini merasa terbebani oleh proses administratif dan tuntutan formal dalam penyusunan skripsi.
Meski begitu, Stella menegaskan bahwa perubahan sistem tidak bisa dilakukan secara instan. Ia berharap pernyataannya bisa menjadi pemicu diskusi dan langkah awal untuk reformasi pendidikan tinggi yang lebih substansial dan berorientasi pada dampak.
Editor: Akbar Pelayati, S.Ag






