Di Rumah Kaca, Sejarah Setahun Itu Dikenang

LUWU TIMUR, SUARATERKININEWS.COM, – Oleh : Camat Tomoni Timur

Petang turun perlahan di Desa Puncak Indah, Malili, Jumat kemarin. Cahaya senja menempel di dinding-dinding Rumah Kaca, memantul seperti kenangan yang belum selesai. Di halaman rumah itu, orang-orang berkumpul bukan semata menghadiri acara, melainkan menyaksikan satu potong waktu yang telah dilewati bersama.

Pemerintah Kabupaten Luwu Timur menggelar syukuran satu tahun kepemimpinan. Satu tahun barangkali terdengar pendek bagi mereka yang membaca laporan di atas meja. Tetapi bagi rakyat kecil, satu tahun bisa berarti apakah harga kebutuhan tetap terjangkau, apakah jalan ke kebun tak lagi berlumpur, apakah anak-anak dapat belajar tanpa cemas.

Di antara tamu yang hadir, berdiri Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam, dan Wakil Bupati, Hj. Puspawati Husler. Nama mereka disebut bersama seperti dua sisi dari satu tekad. Namun malam itu, mereka tidak berdiri sebagai penguasa. Mereka berdiri sebagai manusia yang telah menerima titipan nasib banyak orang.

Layar memutar perjalanan setahun itu , rapat-rapat panjang yang menyita waktu keluarga, langkah-langkah kecil yang sering tak terlihat, keputusan-keputusan yang kadang harus diambil di tengah keraguan dan tekanan. Di sana tergambar upaya menegakkan tata kelola, merapikan arah pembangunan, dan menghidupkan cita-cita Luwu Timur Juara ,maju dan sejahtera, bukan sebagai semboyan, melainkan sebagai kerja harian.

Ketika Irwan berbicara, suaranya tidak menggelegar. Ia seperti sedang bercakap dengan dirinya sendiri atau dengan hati rakyat yang diam-diam menimbang. “Kepercayaan rakyat adalah amanah,” katanya. Amanah kata yang berat, sebab ia tak bisa ditinggalkan ketika lelah datang. Amanah yang menuntut hadir bahkan ketika tepuk tangan telah usai.

“Satu tahun bagi pemerintah mungkin hanya angka,” lanjutnya, “tetapi bagi rakyat, satu tahun bisa berarti perubahan arah hidup.” Kalimat itu seperti mengetuk kesadaran bahwa setiap tanda tangan di atas kertas sesungguhnya bergetar sampai ke dapur-dapur rumah sederhana, sampai ke tangan petani yang retak oleh matahari, sampai ke anak-anak yang memandang masa depan dengan mata yang masih bening.

Di tengah suasana itu, terjadi pula peristiwa yang lebih dari simbol. PT Vale Indonesia Tbk menyerahkan surat kesediaan pelepasan hak atas aset kepada negara untuk dikelola pemerintah daerah. Sebuah isyarat bahwa tanah dan bangunan bukan hanya angka dalam neraca, melainkan ruang hidup yang harus kembali kepada kepentingan umum. Dari Bank Sulselbar hadir satu unit truk sampah mungkin sederhana bentuknya, tetapi ia akan berkeliling kampung, mengangkut sisa-sisa yang tak diinginkan, menjaga kebersihan yang sering dianggap remeh padahal menyangkut martabat.

Namun yang paling hening adalah saat santunan diserahkan kepada sekitar seratus anak yatim di Malili. Anak-anak itu berdiri dengan pakaian terbaik mereka beberapa mungkin masih menyimpan rindu yang tak sempat diucapkan kepada orang tua yang telah tiada. Di hadapan mereka, jabatan menjadi kecil. Yang tersisa hanyalah pertemuan antara tangan yang memberi dan tangan yang menerima dan di antaranya, doa yang tak terdengar tetapi terasa.

Pada momen itu, kepemimpinan tidak lagi berbicara tentang program, target, atau capaian. Ia berbicara tentang kehadiran. Tentang kesediaan untuk melihat yang lemah, mendengar yang sunyi, dan merangkul yang tertinggal.
Di Rumah Kaca itu, sejarah setahun dikenang. Bukan untuk dibanggakan, melainkan untuk diingat bahwa amanah belum selesai, dan perjalanan membangun Luwu Timur masih panjang. (#)