Anas Urbaningrum Nilai Gerakan Literasi TRH di Kolaka Utara sebagai Upaya Kebudayaan Penting

KOLAKA UTARA – Senja belum sepenuhnya turun ketika sebuah gerobak kayu didorong perlahan menyusuri jalanan di Kolaka Utara. Di atasnya, buku-buku tersusun rapi sebagian mulai usang, sebagian lain masih tampak baru. Jumat (17/4/2026).

Anak-anak yang tadinya berlarian pelan-pelan mendekat. Mereka mengerubungi gerobak itu, membuka halaman demi halaman dengan rasa ingin tahu yang sederhana, tapi jujur.

‎Di tengah ruang yang sering dianggap jauh dari hiruk-pikuk literasi, gerakan kecil itu justru tumbuh.

Komunitas Tenggara Reading House (TRH) menjadi salah satu penggeraknya. Mereka hadir dengan satu gagasan sederhana: membawa literasi lebih dekat ke masyarakat, terutama pelajar dan mahasiswa. Dari gagasan itu, lahirlah program yang kini menjadi identitas mereka Gerobak Baca.

‎Gerobak itu bukan sekadar alat. Ia menjadi medium bergeraknya pengetahuan, menyusuri sudut-sudut kampung, menjangkau mereka yang selama ini mungkin tak memiliki akses terhadap buku.

‎Akbar Pelayati, salah satu inisiator TRH, memandang gerakan ini sebagai kebutuhan mendesak. Baginya, literasi bukan sekadar kemampuan membaca, melainkan fondasi berpikir generasi muda.

‎“Literasi adalah modal paling penting bagi pemuda, pelajar, dan mahasiswa. Tapi hari ini kita masih menghadapi krisis literasi,” ujar Akbar.

‎Krisis itu, menurutnya, bukan hanya soal minimnya fasilitas, tetapi juga soal kebiasaan yang belum tumbuh. Karena itu, komunitas seperti TRH hadir untuk menjadikan literasi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

‎Gerakan ini perlahan mendapat perhatian lebih luas. Dukungan datang tidak hanya dari tingkat lokal, tetapi juga dari tokoh nasional. Salah satunya dari Anas Urbaningrum, yang kini menjabat sebagai Ketua Umum Partai Kebangkitan Nusantara (PKN).

‎Melalui pesannya, Anas menyebut gerakan tersebut sebagai bagian dari upaya kebudayaan yang penting.

‎“Bismillah, mantap. Gerakan kebudayaan yang sangat penting. Teruslah melangkah dan mendaki.”

‎Dukungan itu seolah menegaskan bahwa gerakan literasi bukan sekadar aktivitas komunitas, melainkan bagian dari kerja panjang membangun peradaban.

‎Di Kolaka Utara, gerobak kecil itu mungkin tampak sederhana. Namun di tangan mereka yang percaya pada kekuatan pengetahuan, ia menjelma menjadi simbol bahwa perubahan bisa dimulai dari dorongan pelan, dari jalanan yang sunyi, dan dari halaman-halaman buku yang dibaca bersama.