SUARATERKININEWS – Tidak terasa hari berganti pekan, pekan menjelma bulan perhelatan Pemilihan Calon Kepala Daerah (Pilkada) sisa menghitung hari memasuki masa pendaftaran calon pasangan Bupati dan Wakil Bupati Takalar untuk periode (2024-2029).
Deretan nama dan figur baik dari kalangan politisi, birokrat, dewan perwakilan rakyat, hingga pengusaha beberapa bulan lalu yang sibuk menggadang-gadang dirinya akan ikut serta dalam kontestasi 5 tahunan ini seperti, Natsir Ibrahim, Isnan Dahir Rani, Pahriadi Dg Nai, Makmur Mustakim, Wahyudin Mapparenta, Sindawa Tarang, Amin Yakob, Faisal Amir, hingga Ahmad Dg Tonang kini telah tenggelam dari hangatnya pembicaraan para rakyat Butta Panrannuangku hari ini.
Beberapa hari ini dunia maya dan nyata tampak dihebohkan dengan peristiwa gambar “Lambang Burung Garuda” dengan latarbelakang berwarna biru bertuliskan “Panggilan Darurat” sorak menggemparkan seluruh wilayah penjuru tanah air dengan peristiwa legislatif yang tidak lagi patuh pada putusan yudikatif yang dianggap final dan mengikat. Selain Pilkada Ibu Kota di Republik ini yang hangat diperbincangkan dengan istilah KIM Plus yang berpotensi akan menjegal laju dari incumbent Gubernur DKI JAKARTA ‘Anies Baswedan, siapa sangka wilayah bagian selatan Provinsi Sulawesi Selatan dengan penduduk -/+ 270.000 jiwa yang tersebar di 10 Kecamatan rupanya terkena angin yang kurang segar dari tanah Batavia itu.
“Kotak Kosong” ya kira-kira dua kata ini yang sedang menjadi isu panas jelang proses pendaftaran pasangan calon Bupati dan wakil Bupati Takalar pada 27-29 Agustus. Saat ditemui disalah satu warung kopi di Takalar sosok mantan Ketua OSIS SMA NEGERI 5 TAKALAR itu menyampaikan bahwa “Saya kira belakangan ini sedang marak isu begal partai politik demi memboyong banyak parpol dan upaya memboyong parpol ‘kemungkinan’ besar adalah skema elit istana yang ingin digulirkan di beberapa daerah, salah satunya Takalar dan kotak kosong adalah konspirasi kekuasaan” ungkap pria kelahiran 2004 itu.
“Isu kotak kosong saya anggap sebagai maut bagi masyarakat Takalar, sebab ini menjadi corong perhelatan politik yang baru akan terjadi sepanjang sejarah pemilihan Calon Bupati dan Wakil Bupati di Takalar, tentu hal inilah yang kemudian saya pikir akan membuat sebagian besar masyarakat kaget bahkan tidak senang dengan beberapa alasan, misalnya calon yang diharapnya bisa menjadi lawan calon A justru berkoalisi menjadi sepasang calon”, tukas mahasiswa Universitas Negeri Makassar itu.
Lanjutnya ia mengatakan bahwa kotak kosong ini sebagai upaya para elit dalam menyeragamkan beberapa hasil atau pemenang di Pilkada itu merupakan bagian dari koalisi pemenang di Pilpres kemarin.
“Taktikal yang coba dirangkai, dijalin, dan dibangun sedemikian rupa oleh para elit politik saya menganggap luarannya ialah kotak kosong menjadi akhir dinamika Pilkada di Takalar, sehingga saya pikir ini merupakan bentuk pelemahan demokrasi kita yang sudah cacat sebab hilangnya kontestasi yang seharusnya bisa berlangsung seru, nikmat, khidmat dirasakan oleh masyarakat”, beber Asmin.
Editor: Akbar Pelayati






