SUARATERKININEWS- Merah bukan sekadar warna. Ia adalah simbol darah yang mengalir, semangat yang membara, dan ikatan tak terputus antar generasi pejuang idealisme. Merah adalah denyut nadi perjuangan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Gowa, yang sejak awal berdiri telah menancapkan akar dalam tanah kebangsaan, keislaman, dan keilmuan.
Dalam tubuh IMM, warna merah tidak hanya merepresentasikan semangat juang, tetapi juga menyimpan makna spiritual yang mendalam. Merah mencerminkan rahim, simbol kasih sayang dan asal kehidupan sekaligus manifestasi dari sifat rahman dan rahim Allah SWT. Di sinilah letak kedalaman nilai IMM: Gerakan ini tumbuh bukan hanya dari semangat, tetapi juga dari cinta dan kepedulian.
IMM bukanlah gerakan politis praktis, apalagi oportunistik. IMM adalah gerakan keilmuan yang berpandangan jauh ke depan, membangun kesadaran progresif demi terwujudnya khoiru ummah, masyarakat unggul yang berilmu dan berakhlak. Cita-cita ini tercermin dalam pribadi kader IMM yang memadukan dimensi intelektual dan praksis: mengamalkan ilmu (amal ilmiah) sekaligus mengilmiahkan amal (ilmu amaliah).
Masyarakat Ilmu: Tujuan dan Tanggung Jawab
Gagasan tentang masyarakat ilmu adalah keniscayaan bagi IMM. Masyarakat ini merupakan indikator keberhasilan IMM dalam mengemban tujuan besar Muhammadiyah. Namun, masyarakat ilmu tidak hadir secara instan; ia menuntut kerja keras dan kerja cerdas dalam menyikapi realitas sosial, politik, dan keilmuan secara kritis. Hanya dengan cara inilah cita-cita untuk mewujudkan baldatunthayyibatun wa rabbun ghafur dapat menjadi nyata.
IMM adalah organisasi kader dan pergerakan. Sebagai organisasi kader, IMM tak dapat dipisahkan dari Muhammadiyah. Ia adalah kawah candradimuka yang menempa generasi ideologis Persyarikatan. Sebagai organisasi pergerakan, IMM lahir dari konteks sejarah gerakan mahasiswa yang resisten terhadap stagnasi sosial, keilmuan, dan politik bangsa.
Tantangan Distingtifitas dan Karakter Gerakan
Namun dalam dinamika mutakhir, IMM sering kali belum memiliki kerangka
berpikir yang kokoh dan distingtif dalam membedakan dirinya dengan gerakan mahasiswa lainnya, termasuk ortom-ortom Muhammadiyah. Perbedaan IMM dengan gerakan lain kerap bersifat superfisial, sekadar terletak pada simbol, seragam, atau aktor, bukan pada substansi visi dan karakter gerakannya.
Di tengah arus besar pergerakan yang semakin konsumtif, seragam, dan minimrefleksi, IMM harus kembali menghidupkan karakter kritis dan etis. Tanpa keberanian untuk mengkritisi wacana dominan dan keluar dari zona nyaman, IMM berisiko menjadi “pengikut arus” yang kehilangan identitas gerakannya.
Refleksi dan Penataan Ulang Paradigma
Tantangan hari ini adalah membangun kembali kerangka gerakan yang berwatak ideologis, berlandaskan ilmu, dan berspirit pembebasan. Sebab IMM, sebagai bagian dari arus muda Muhammadiyah, tidak kebal terhadap budaya instan, pola pikir pragmatis, dan tekanan globalisasi. Kecenderungan ini menjadikan arah gerakan IMM mudah terseret pada pilihan yang pragmatis dan sesaat, bahkan tak jarang dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok tertentu.
Fenomena ini adalah bagian dari realitas global yang tak bisa dihindari. Oleh karena itu, IMM perlu segera merumuskan ulang paradigma gerakannya, bukan sebagai reaksi sesaat, melainkan sebagai hasil dari refleksi panjang dan mendalam.
Paradigma baru ini harus lahir dari pemahaman yang utuh tentang kondisi objektif dan kesiapan kader dalam membangun gerakan yang otentik dan kontekstual.
Tanpa penataan ulang ini, IMM berisiko terseret dalam homogenisasi gerakan yang menjauhkan dirinya dari karakter khasnya sebagai gerakan ideologis, kritis, dan transformatif. Maka, saatnya IMM kembali pada akar: Membumikan nilai keislaman, keilmuan, dan kemanusiaan dalam semangat perjuangan yang merah membara.
Penulis: Nurafni
* Penulis merupakan kandidat ketua umum PC IMM Gowa periode 2025-2026






