OPINI, SUARA TERKINI NEWS – Globalisasi bukan sekadar percepatan teknologi dan ekonomi, melainkan juga percepatan nilai. Dalam dunia yang bergerak serba cepat, keputusan moral sering diambil lebih cepat daripada refleksi etisnya. Efisiensi, kebebasan dan inovasi menjadi mantra zaman, sementara berbagai pertanyaan tentang makna, tujuan dan tanggung jawab kerap tertinggal. Pada titik ini krisis etika global menemukan momentumnya.
Etika Barat modern banyak mewarnai lanskap global, bertumpu pada rasionalitas otonom dan sekularisasi nilai. Moralitas dipahami sebagai hasil penalaran manusia yang bebas dari otoritas transenden. Pendekatan ini berhasil membebaskan manusia dari dogmatisme dan otoritarianisme moral. Hal ini menyisakan persoalan mendasar, ketika rasio dijadikan sumber tunggal nilai.
Globalisasi membawa relativisme etika tidak lagi sekadar wacana teoretis, melainkan realitas praksis. Nilai moral mudah berubah mengikuti kepentingan pasar, logika kekuasaan dan dinamika politik global. Etika tidak lagi berfungsi sebagai kritik terhadap kekuasaan, tetapi justru menjadi alat legitimasi. Moralitas direduksi menjadi prosedur, standar dan kepatuhan administratif, kehilangan daya transformatifnya.
Etika Islam pada tahap ini tidak seharusnya dibaca sebagai antitesis reaksioner terhadap Barat, tetapi sebagai kritik filosofis terhadap krisis modernitas. Pemikiran Muhammad Baqir al-Sadr misalnya, menunjukkan bahwa problem utama etika modern bukan terletak pada absennya rasio, melainkan pada absolutisasi rasio. Akal, ketika dipisahkan dari sumber nilai transenden, kehilangan orientasi ontologis dan tujuan aksiologisnya.
Etika Islam menawarkan kerangka tauhidik yang menempatkan nilai moral dalam struktur keberadaan. Kebaikan tidak sekadar apa yang disepakati manusia, tetapi apa yang selaras dengan fitrah dan tujuan penciptaan. Kerangka ini menunjukkan bahwa manusia bukan pencipta nilai, melainkan subjek etis yang bertanggung jawab mengaktualkan nilai. Akal tidak ditiadakan, tetapi diarahkan juga kebebasan tidak ditolak, tetapi dibingkai oleh tanggung jawab.
Di tengah globalisasi yang serba cepat, posisi ini menjadi signifikan. Etika Islam tidak menolak kemajuan teknologi, pasar global atau pluralitas budaya. Namun, mengejar dengan pertanyaan-pertanyaan yang sering dihindari oleh etika modern, kemajuan berisiko menjadi gerak tanpa makna, bahkan instrumen dehumanisasi.
Globalisasi membutuhkan etika yang tidak hanya adaptif, tetapi juga reflektif dan kritis. Etika Islam, dengan orientasi tauhid dan tanggung jawab kosmiknya, menawarkan daya tahan moral di tengah dunia yang cair. Bukan sebagai solusi instan, tetapi horizon kritik yang menjaga agar kemajuan tidak kehilangan kemanusiaannya.
Perdebatan etika di era global bukan tentang memilih antara Islam atau Barat, melainkan tentang keberanian menanyakan kembali dasar-dasar moralitas itu sendiri. Etika Islam, dalam pembacaan filosofisnya, hadir tidak untuk menutup dialog, tetapi justru untuk membukanya, dengan syarat bahwa kemajuan tidak boleh berjalan tanpa arah dan kebebasan tidak boleh kehilangan makna.
Penulis: Muhammad Kurniansyah






