MAKASSAR, SUARATERKININEWS.COM, –, 16 Juni 2026 — Gerakan Solidaritas Mahasiswa Merdeka kembali menunjukkan sikap kritisnya terhadap kondisi bangsa dengan menggelar aksi unjuk rasa di kawasan Flyover Makassar. Aksi ini merupakan bentuk respon terhadap berbagai kebijakan pemerintah pusat di bawah rezim Prabowo–Gibran yang dinilai tidak berpihak kepada kepentingan rakyat.
Dalam aksi tersebut, massa membawa lima tuntutan utama yang dianggap sebagai representasi keresahan masyarakat luas, yaitu:
1. Mendesak pemerintah untuk segera menstabilkan nilai rupiah yang terus melemah.
2. Menuntut penurunan harga BBM yang semakin memberatkan rakyat kecil.
3. Mendesak evaluasi total terhadap program MBG yang dinilai tidak efektif dan tidak tepat sasaran.
4. Menolak RUU Polri yang dianggap berpotensi memperkuat represi terhadap rakyat sipil.
5. Mendesak pengesahan RUU Perampasan Aset sebagai langkah konkret pemberantasan korupsi.
Aksi yang berlangsung sejak sore hari tersebut diwarnai dengan orasi-orasi bergantian dari berbagai elemen mahasiswa yang tergabung dalam gerakan. Dalam setiap orasinya, massa menegaskan bahwa kondisi sosial-ekonomi saat ini semakin menekan masyarakat, mulai dari kenaikan harga kebutuhan pokok, ketidakstabilan ekonomi, hingga ketidakpastian hukum.
Situasi sempat memanas ketika terjadi cekcok antara massa aksi dan aparat kepolisian. Ketegangan dipicu oleh upaya aparat yang berusaha menghentikan jalannya aksi tanpa memberikan alasan yang jelas. Namun, ketegangan tersebut tidak berlangsung lama setelah Jenderal Lapangan (Jenlap), Andi Saiful, secara tegas meminta penjelasan terkait dasar penghentian aksi. Setelah dilakukan komunikasi, aparat akhirnya memberikan ruang bagi massa untuk melanjutkan aksi.
Setelah insiden tersebut, aksi kembali berjalan dengan tertib dan kondusif hingga selesai. Massa aksi tetap menjaga disiplin serta mengedepankan semangat perjuangan yang terarah dan terorganisir.
Gerakan Solidaritas Mahasiswa Merdeka menegaskan bahwa aksi ini bukanlah yang terakhir. Mereka berkomitmen untuk terus mengawal kebijakan pemerintah dan akan kembali turun ke jalan apabila tuntutan rakyat tidak segera direspons secara serius oleh pihak berwenang.
Jika pemerintah terus menutup mata terhadap penderitaan rakyat, maka kami akan memastikan bahwa suara perlawanan ini semakin besar dan tidak dapat diabaikan, tegas salah satu orator dalam aksi tersebut.
Melalui aksi ini, mahasiswa kembali menegaskan perannya sebagai agen perubahan dan kontrol sosial, yang tidak akan tinggal diam melihat ketidakadilan yang terus terjadi di negeri ini.






