MAKASSAR, SUARATERKININEWS.COM, — Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) bidang Teknik Universitas Muhammadiyah Makassar mengembangkan inovasi pemanfaatan limbah cangkang
sawit sebagai material substitusi pasir pada mortar untuk aplikasi plasteran dinding. Penelitian ini dilakukan sebagai upaya menghasilkan material alternatif yang lebih ramah
lingkungan sekaligus meningkatkan pemanfaatan limbah perkebunan yang selama ini belum
dimanfaatkan secara optimal.
Limbah cangkang sawit memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan alternatif dalam
material konstruksi karena karakteristik fisiknya yang berbeda dari pasir. Melalui proses
pengolahan, pengeringan, dan pengayakan, cangkang sawit dipersiapkan untuk digunakan sebagai
material substitusi pada mortar.
Penelitian dilakukan dengan beberapa variasi persentase substitusi cangkang sawit, yaitu 0%,
10%, 20%, dan 30%. Setiap variasi kemudian diuji untuk mengetahui pengaruh penggunaan
cangkang sawit terhadap densitas, kuat tekan, kuat lentur, serta respons termal mortar pada
berbagai kondisi curing.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan substitusi cangkang sawit memberikan
pengaruh terhadap karakteristik mortar. Penggunaan cangkang sawit cenderung menghasilkan
mortar dengan densitas yang lebih rendah, sehingga berpotensi menghasilkan material yang
lebih ringan. Dari aspek respons termal, beberapa perlakuan dengan substitusi 20% menunjukkan
perubahan suhu (ΔT) yang lebih rendah dibandingkan variasi lainnya.
Inovasi ini diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif pemanfaatan limbah cangkang sawit
dalam bidang konstruksi, khususnya untuk material non-struktural seperti plasteran dinding.
Selain mengurangi penggunaan pasir alam, pemanfaatan limbah tersebut juga menjadi langkah
dalam mendukung pengembangan material konstruksi yang lebih berkelanjutan.
Melalui penelitian ini, Tim PKM-RE Teknik Universitas Muhammadiyah Makassar berupaya
mengembangkan solusi inovatif yang menghubungkan pemanfaatan limbah perkebunan dengan
kebutuhan material konstruksi, sehingga limbah cangkang sawit dapat memiliki nilai guna dan
nilai tambah yang lebih tinggi.






