MAKASSAR, SUARATERKININEWS.COM, — Jenderal Lapangan Gerakan Solidaritas Mahasiswa Merdeka (GSMM), Andi Saeful, kembali melontarkan kritik terhadap kinerja Polrestabes Makassar menyusul munculnya laporan dugaan aksi kelompok geng motor di Jalan Kandea 3, Makassar, pada Rabu (14/10/2026). Peristiwa tersebut menjadi sorotan setelah sehari sebelumnya Andi Saeful memimpin aksi demonstrasi di depan Mapolrestabes Makassar dengan mendesak kepolisian memperkuat pencegahan dini terhadap aksi geng motor dan kekerasan jalanan.
Dalam aksi pada Selasa (13/10/2026), Andi Saeful bersama massa GSMM menyuarakan keresahan masyarakat atas ancaman keamanan di ruang publik. Mereka mendesak Polrestabes Makassar agar tidak hanya mengandalkan penindakan setelah kejadian, tetapi juga memperkuat langkah preventif untuk mencegah jatuhnya korban.
Dalam komunikasi terkait aksi tersebut, pihak kepolisian menyampaikan bahwa pengamanan telah dimaksimalkan. Namun, munculnya kembali laporan dugaan aktivitas kelompok geng motor pada siang hari sehari setelah aksi mahasiswa memunculkan pertanyaan dari GSMM mengenai efektivitas langkah pencegahan yang telah disampaikan.
Berdasarkan informasi yang diberitakan mengenai kejadian di Jalan Kandea 3, rombongan yang diperkirakan terdiri atas sekitar 12 sepeda motor diduga menyalakan petasan dan membentangkan busur panah sebelum meninggalkan lokasi. Polisi disebut belum menerima laporan adanya korban dalam kejadian tersebut dan masih melakukan penyelidikan.
Peristiwa itu menjadi perhatian GSMM karena menunjukkan bahwa potensi gangguan keamanan jalanan masih perlu ditangani secara serius. Meski demikian, GSMM menegaskan bahwa kejadian tersebut harus ditindaklanjuti melalui penyelidikan dan evaluasi berdasarkan fakta di lapangan.
Andi Saeful: Kami Kecewa, Keamanan Masyarakat Bukan Sekadar Pernyataan
Sebagai Jenderal Lapangan yang memimpin aksi di depan Mapolrestabes Makassar, Andi Saeful menilai bahwa pernyataan mengenai maksimalnya pengamanan harus disertai hasil yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Ia menyampaikan kekecewaan karena persoalan yang menjadi pokok tuntutan mahasiswa kembali menjadi perhatian publik, bahkan dengan adanya laporan dugaan aktivitas kelompok geng motor pada siang hari.
“Ketika kami turun melakukan aksi di depan Polrestabes Makassar, kami datang membawa keresahan masyarakat dan menuntut adanya pencegahan dini terhadap aksi geng motor. Kami mendapatkan penyampaian bahwa pengamanan telah dimaksimalkan. Namun, sehari setelah aksi kami, kembali muncul laporan dugaan aktivitas geng motor yang meresahkan masyarakat. Tentu kami kecewa dan mempertanyakan efektivitas langkah pengamanan yang telah disampaikan,” tegas Andi Saeful.
Ia menekankan bahwa kritik tersebut merupakan bentuk kontrol sosial mahasiswa terhadap pelaksanaan tugas aparat dalam menjaga keamanan masyarakat.
“Jika keamanan masyarakat, yang merupakan kebutuhan paling mendasar, saja belum dapat diwujudkan secara efektif, maka pantas jika kami merasa kecewa dan mempertanyakan kinerja Polrestabes Makassar. Masyarakat tidak membutuhkan sekadar pernyataan bahwa pengamanan sudah maksimal. Masyarakat membutuhkan rasa aman yang benar-benar bisa dirasakan ketika beraktivitas, baik siang maupun malam hari,” lanjutnya.
Menurut Andi Saeful, munculnya laporan dugaan aktivitas kelompok geng motor setelah aksi mahasiswa harus menjadi momentum bagi kepolisian untuk mengevaluasi strategi pencegahan. Ia menilai bahwa pengamanan perlu didasarkan pada pemetaan titik rawan, pola kejadian, kecepatan merespons laporan, serta langkah antisipasi yang konsisten.
Desak Evaluasi Terbuka dan Langkah Pencegahan yang Terukur
Andi Saeful mendesak Polrestabes Makassar agar menjelaskan langkah konkret yang telah dilakukan untuk mengantisipasi aksi geng motor serta bagaimana efektivitas pengamanan dievaluasi setelah aspirasi mahasiswa disampaikan.
GSMM mendorong penguatan patroli preventif berdasarkan pemetaan kerawanan, penanganan laporan masyarakat secara cepat, dan pengusutan setiap dugaan tindak pidana sesuai ketentuan hukum. Koordinasi dengan pemerintah daerah, pihak sekolah, keluarga, dan masyarakat juga dinilai penting untuk mencegah keterlibatan generasi muda dalam kekerasan jalanan.
Bagi GSMM, persoalan ini tidak boleh hanya mendapatkan perhatian ketika terjadi penyerangan atau ketika masyarakat kembali menyampaikan protes. Pencegahan harus menjadi upaya berkelanjutan dengan hasil yang dapat dievaluasi secara objektif.
Andi Saeful menegaskan bahwa mahasiswa tidak bermaksud menafikan seluruh upaya yang telah dilakukan kepolisian. Namun, ia meminta agar klaim mengenai maksimalnya pengamanan dapat diikuti evaluasi terhadap situasi aktual dan langkah perbaikan yang terukur.
Andi Saeful Tegaskan GSMM Akan Terus Mengawal
Sebagai pemimpin aksi, Andi Saeful menegaskan bahwa GSMM akan terus mengawal persoalan keamanan jalanan di Makassar melalui kritik dan pengawasan publik. Menurutnya, keberanian mahasiswa menyampaikan aspirasi harus diikuti keseriusan aparat dalam menindaklanjuti persoalan yang menjadi perhatian masyarakat.
“Kami sudah datang langsung ke Polrestabes Makassar untuk menyampaikan tuntutan dan meminta pencegahan dini. Karena itu, kami tidak ingin aspirasi tersebut berhenti sebagai catatan atau sekadar dijawab dengan pernyataan bahwa pengamanan telah dimaksimalkan. Kami ingin ada evaluasi yang jelas dan langkah konkret yang dapat dirasakan masyarakat,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa keamanan merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang tidak boleh dikesampingkan. Setiap warga berhak menjalankan aktivitas tanpa dihantui kekhawatiran terhadap ancaman kekerasan di jalanan.
“Sekali lagi, kami kecewa jika persoalan keamanan masyarakat terus menjadi keresahan tanpa adanya perubahan yang benar-benar dirasakan. Kami akan terus menjalankan fungsi kontrol sosial dan mengawal persoalan ini agar Polrestabes Makassar memberikan perhatian serius terhadap pencegahan geng motor. Yang kami tuntut sederhana: masyarakat harus merasa aman, dan setiap upaya pengamanan harus dapat dipertanggungjawabkan,” tutup Andi Saeful.






