KOLAKA UTARA, SUARA TERKINI NEWS — Kekecewaan masyarakat Kolaka Utara terhadap lambannya pengungkapan kasus korupsi proyek Bandara Kolaka Utara kian memuncak. Meski sejumlah pihak sudah ditangkap, publik menilai penyidikan masih berputar di lingkar luar, sementara aktor utama yang diduga mengendalikan alur proyek justru belum tersentuh.
Suara protes itu tumpah ruah di berbagai kanal publik. Warga mempertanyakan komitmen aparat penegak hukum dalam menuntaskan kasus yang menghabiskan anggaran puluhan miliar rupiah tetapi berujung pada lahan mangkrak.
“Gimana kabarnya bandara? Masa tidak bisa ungkap pelaku sesungguhnya? Tidak muak ki itu selalu nonton film drama,” ucap seorang warga dengan nada getir.
Sindiran lebih tajam datang dari warga lainnya yang menilai bahwa upaya penegakan hukum hanya menyasar “pemain kecil”, sementara tokoh berpengaruh yang diduga mengatur skema pembiayaan, perencanaan, dan eksekusi proyek seakan berada pada lingkar perlindungan tak terlihat.
“Meskipun sudah berapami kambing ditangkap, tidak satu pun berteriak mbee… mbee…. Kasus ini sudah di Kejagung karena diduga bukan hanya kambing, tapi juga ada kerbau yang masih berkeliaran di luar sana,” kata seorang masyarakat.
Ungkapan “kambing” dan “kerbau” itu menjadi metafora keras: masyarakat meyakini bahwa yang ditangkap selama ini hanyalah pelaksana teknis di lapangan — bukan para perancang kebijakan, bukan pengambil keputusan tertinggi, dan bukan mereka yang paling diuntungkan dari proyek bandara.
Di Kolaka Utara, opini publik terus mengarah pada satu benang merah: ada sosok penting yang seharusnya ikut diseret ke meja hukum, namun hingga kini belum tersentuh. Warga menilai, selama lingkar inti kekuasaan belum diperiksa, keadilan masih jauh dari kata selesai.
Desakan agar Kejaksaan Agung memperluas penyidikan semakin keras terdengar. Masyarakat meminta agar penyidik tidak berhenti pada “pintu depan”, melainkan masuk ke ruang-ruang keputusan yang benar-benar menentukan arah proyek.
“Jangan biarkan masyarakat Kolut disuguhi drama. Kami ingin kebenaran penuh, bukan potongan kecil yang aman untuk siapa pun,” ujar seorang aktivis antikorupsi di Lasusua.
Hingga kini, masyarakat menunggu:
bukan siapa yang ditangkap berikutnya,
tetapi kapan pelaku utama akhirnya disentuh hukum.






