MAKASSAR, SUARATERKININEWS.COM, – Sejumlah massa yang tergabung dalam KOMRAD (Komunitas Rakyat Bergerak) kembali menggelar aksi unjuk rasa secara tertib dan penuh militansi di kawasan Taman Fly Over Kota Makassar, Sabtu (30/05/2026). Aksi yang berlangsung menjelang senja tersebut menjadi ruang artikulasi perlawanan rakyat, diwarnai dengan orasi-orasi tajam, kibaran bendera merah hitam, serta seruan lantang yang menggema terhadap kondisi demokrasi yang kian tergerus.
Aksi ini merupakan bagian dari agenda konsisten bertajuk “Rutinan Kota Makassar”, sebuah forum perjuangan yang dilaksanakan setiap hari Sabtu sebagai bentuk konsolidasi ideologis, penguatan solidaritas, serta manifestasi keberpihakan kepada rakyat tertindas.
Rian, selaku Jenderal Lapangan, dalam orasinya menegaskan bahwa aksi ini bukan sekadar rutinitas simbolik, melainkan representasi dari kegelisahan kolektif atas realitas bangsa yang masih dibayangi oleh berbagai pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang belum terselesaikan secara adil dan transparan. Ia juga menyoroti adanya kecenderungan pembungkaman ruang sipil yang semakin nyata.
Lebih lanjut, KOMRAD secara tegas mengkritik pembubaran kegiatan nonton bareng (nobar) di Kota Makassar yang dinilai sebagai bentuk nyata dari represi terhadap kebebasan berekspresi. Tindakan tersebut tidak hanya mencederai prinsip demokrasi, tetapi juga menunjukkan adanya penyempitan ruang publik yang seharusnya menjadi milik rakyat.
Dalam momentum aksi ini, KOMRAD menyuarakan mengusut tuntas seluruh pelanggaran HAM di Indonesia secara menyeluruh, transparan, dan tanpa tebang pilih.
Menghentikan segala bentuk represi dan kriminalisasi terhadap kebebasan sipil, termasuk pembubaran kegiatan rakyat.
Menjamin dan melindungi kebebasan berpendapat, berekspresi, serta berkumpul sebagai hak konstitusional warga negara.
Mendesak pertanggungjawaban moral, politik, dan kebijakan pemerintahan Prabowo–Gibran atas berbagai kebijakan yang tidak berpihak pada kepentingan rakyat luas.
KOMRAD menegaskan bahwa perjuangan ini tidak akan berhenti pada satu titik aksi semata. Gerakan ini akan terus bergulir sebagai bentuk komitmen ideologis dalam mengawal demokrasi, melawan ketidakadilan, serta memastikan bahwa suara rakyat tetap hidup dan tidak dapat dibungkam oleh kekuasaan apa pun.
Aksi berlangsung secara damai, tertib, dan penuh kesadaran politik hingga selesai, dengan pengawalan dari aparat keamanan.
Liputan : Ipul






